Monday, October 26, 2015

Pendapatku mengenai perbedaan

Ali bukanlah milik syi’ah dan Utsman pun bukanlah milik sunni, keduanya adalah hamba-hamba Allah yang sangat saleh, keduanya adalah menantu Nabi, dan keduanya pun sama-sama dicintai oleh Nabi Muhammad saw. oleh karena itu keduanya bukanlah syi’ah ataupun sunni, tetapi keduanya adalah muslim yang menjadi sahabat terbaik Nabi dan mukmin yang telah dijanjikan menjadi penduduk surga oleh Allah SWT.
Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda:
“Janganlah mencela para sahabatku! Janganlah kalian mencela para sahabatku! Demi Dzat yang menguasai jiwaku, seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, kadarnya tetap tidak akan dapat menandingi satu mud yang telah diinfakkan seorang dari sahabatku.” [1]
Antara Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, tidak ada yang dilebihkan satu sama lain oleh Rasulullah saw. Mereka masing-masing punya kedudukan terhormat di mata Nabi dan sama-sama dicintai oleh Nabi. Adapun bagaimana kedudukan Ali bin Abi Thalib di mata Rasulullah saw. digambarkan pada kisah berikut:
Ketika Ali menanyakan mengapa hanya dirinya ditugasi menjaga keluarganya oleh Rasulullah saw. sedangkan saat itu dirinya sangat ingin pergi bersama Rasulullah saw. ke mendan tempur perang Tabuk. Rasulullah saw. kemudian berkata kepada Ali:
“Tidak relakah engkau memiliki kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja, tidak ada nabi setelahku.” [2]
Jadi janganlah kita menisbatkan salah satu dari keempat sahabat ini dengan firqah-firqah golongan, hingga kita akhirnya menjadi sungkan untuk belajar dari kearifan keempat sahabat Nabi ini dan menyerap semua kebaikan dan petuah yang terpancar dari mereka.
Janganlah kita melampaui apa yang menjadi wilayah kekuasaan dan hak Allah Ta’ala dalam menghakimi mana yang salah mana yang benar. Cukuplah saja hanya Allah Yang Maha Mengetahui dan menjadi Hakim Yang Maha Adil tentang keimanan dan kesalehan dari keempat sahabat ini.
ILMU ITU PUNYA AHLAK, DAN AHLAK ITU HARUS DENGAN ILMU
Ali dikenal sebagai sahabat Nabi yang sangat menghargai ilmu, menghormati orang yang telah mengajarinya ilmu, dan karena kecerdasannya pula sekalipun dihadapkan pertanyaan-pertanyaan yang aneh dan lugu, tetapi Ali tetap melayaninya dengan cara dan jawaban yang arif.
Ali pula yang mengajarkan bahwa ilmu dan ahlak adalah satu kesatuan, dan petuahnya yang terkenal mengungkapkan ciri-ciri orang yang berilmu sejati:
Wahai para pencari ilmu, sesungguhnya ada tiga ciri utama seorang yang berilmu (alim), yaitu ia mengetahui dan mengenal Allah, apa yang disukai Allah, dan apa yang dibenci Allah.
Kepada yang berilmu khususnya para Faqih (orang yang paham terhadap syariat Islam), Ali menasehati:
Maukah kalian kuberi tahu tentang al-Faqih Haqq al-Faqih (yang paling utama di antara para Faqih)?
Ia adalah seorang yang tidak memutuskan harapan manusia dari rahmat Allah,
Ia adalah seorang yang tidak mendorong manusia untuk bermaksiat kepada Allah,
Ia adalah seorang yang tidak membuat manusia merasa aman dari murka Allah,
dan Ia adalah seorang yang tidak meninggalkan al-Qur’an karena membencinya lalu ia berpaling kepada yang lain.
Ketahuilah, tidak ada kebaikan dalam ibadah yang tidak disertai pengetahuan, tidak ada kebaikan dalam pengetahuan yang tidak disertai pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam pembacaan yang tidak disertai menelaahnya.
Kepada para pencari ilmu pun Ali menasehatinya:
Kedudukan seorang yang berilmu (alim) itu seperti orang yang sedang berpuasa dan berjuang di jalan Allah. Ia bagaikan setandan kurma yang hendak jatuh memberimu manfaat. Oleh karena itu hendaklah seorang murid harus menghormati guru, menghargainya, dan duduk sopan di hadapannya. Ketika guru tidak hadir, berharaplah agar ia segera kembali dan terimalah dengan baik ketika ia kembali. Janganlah murid mencari-cari aib dan rahasia gurunya, tidak pula ber-ghibah tentang gurunya. Murid hendaknya senantiasa mendoakan keselamatan bagi gurunya.
Akhirnya baik kepada yang berilmu dan yang mencari ilmu, Ali mengingatkan:
Pelajarilah ilmu dan ajarkanlah kepada manusia. Pelajarilah kemuliaan diri dan kehormatan diri. Bersikap rendah hatilah kepada orang yang mengajari dan yang kau ajari. Janganlah menjadi seorang berilmu yang sewenang-wenang agar ilmumu tidak dikalahkan oleh kebodohan.
Beberapa contoh lain yang menggambarkan kecerdasan dan kepahaman agama yang luas dari Ali bin Abi Thalib, silahkan baca artikel-artikel berikut:
* Apa Yang Tidak Diketahui Allah
* Rahasia Angka Ali bin Abi Thalib
MENYUGUHKAN SURGA LEBIH BAIK DARIPADA MENGANCAM DENGAN NERAKA
Suatu hari ada orang yang pernah bertanya kepada Ali, tentang tentang kemuliaan hari Jum’at, bulan Ramadhan, dan amalan yang paling utama. Inilah jawaban Ali yang mampu memotivasi orang-orang untuk tetap selalu bersemangat ibadah:
Memang benar amalan paling dimuliakan oleh Agama adalah menunaikan Shalat tepat pada waktunya.
Namun Agama lebih menginginkan agar engkau senantiasa bisa membuat Allah ridho dengan amalan yang telah engkau perjuangkan.
Memang benar bulan paling dimuliakan Agama adalah Ramadhan.
Namun Agama lebih menginginkan agar engkau selalu berada di bulan yang di dalamnya banyak bertaubat.
Memang benar hari paling dimuliakan adalah Jum’at.
Namun Agama lebih menginginkan agar engkau mati di hari saat engkau dalam keadaan beriman. [3]
Kearifan Ali dalam menjawab telah mengenyahkan pandangan bahwa kurang mulianya beribadah dan mati di luar hari Jum’at dan bulan Ramadhan. Untuk memotivasi orang-orang agar lebih bersemangat tentunya akan lebih baik bila kita menyuguhkan surga kepada mereka daripada menakuti-nakuti dengan adzab neraka. Dengan begitu, akan tumbuh rasa cinta kepada Allah karena apa yang mereka lihat dari Allah adalah kasih sayang-Nya bukan murka-Nya.
Dengan memahami bahwa Islam itu adalah agama yang indah, mungkin kita pun tidak lagi akan menjadikan shalat fardhu sebagai sebuah kewajiban karena takut akan adzab neraka, tetapi telah menjadi sebuah kecintaan kepada Allah SWT. karena keridhoan dan kasih sayang Allah, melebihi keindahan surga-Nya.
Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa pun, Ali tetap santun dan arif tidak serta merta emosi karena pada dasarnya adakalanya mereka dalam kondisi benar-benar tidak tahu atau memang benar-benar punya tujuan mulia. Berikut adalah salah satu kisah kearifan Ali dalam berdakwah:
Suatu hari Abu Bakar pernah kedatangan seorang pastor dari luar Arab. Dikatakan oleh pastor tersebut maksud kedatangannya: “Aku dari negeri Roma dan aku datang membawa kantung berisi emas dan perak. Aku ingin bertanya kepada penjaga umat islam tentang beberapa masalah. Jika dia dapat menjawab maka aku akan mentaati perintahnya dan hartaku di hadapan kalian akan aku berikan kepadanya. Tetapi jika dia tidak dapat menjawabnya maka aku akan kembali ke negeriku.”
Abu Bakar berkata: “Bertanyalah sesuka hatimu.”
Pastor berkata: “Demi Allah, aku tidak akan berbicara sebelum anda memberiku jaminan berada di dalam keadaan aman dan dari kemarahan teman-temanmu.”
Abu Bakar berkata: “Aku jamin keamanan kamu dan tidak akan apa-apakan kamu, tanyalah apa yang ingin kamu ingin mengetahui.”
Pastor berkata: “Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak Allah miliki, sesuatu yang tidak ada pada Allah dan sesuatu yang tidak Allah ketahui?”
Abu Bakar gementar dan tidak mampu menjawab. Kemudian pastor itu bangun hendak keluar.
Lalu Abu Bakar berkata: “Wahai musuh Allah, sekiranya kita tidak membuat perjanjian tadi, niscaya aku basahi tanah ini dengan darahmu!”
Kebetulan Salman al-Farisi ada di situ, beliau bangkit dan pergi mencari Ali bin Abi Thalib yang sedang duduk bersama Hasan dan Husein di dalam rumah. Salman menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada Ali. Maka Ali bangun dan pergi bersama Hasan dan Husain ke masjid. Ketika orang ramai melihat Ali, mereka bertahmid dan mereka segera mendekati Ali.
Ali masuk dan duduk.
Lalu Abu Bakar berkata: “Wahai pastor, tanyalah kepadanya, dialah orang yang kamu cari.”
Pastor pun menghadap Ali dan berkata: “Wahai lelaki, siapa namamu?”
Ali menjawab: “Namaku di kalangan Yahudi ialah Ilyan dan di kalangan Nasrani ialah Ilya. Sedang menurut ayahku, namaku adalah Ali dan menurut ibuku namaku adalah Haidarah.”
Pastor bertanya lagi: “Apa hubungan kamu dengan nabimu?”
Ali menjawab: “Beliau adalah saudaraku, mertuaku, dan putra pamanku.”
Pastor berkata lagi: “Kamu adalah temanku, demi Tuhannya Isa. Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak Allah miliki, sesuatu yang tidak ada pada Allah dan sesuatu yang tidak Allah ketahui?”
Ali menjawab: “Yang tidak Allah miliki ialah bahwa Allah Maha Esa, tidak memiliki isteri dan anak. Sesuatu yang tidak ada pada Allah ialah perbuatan zalim terhadap sesiapa (dan apapun). Dan sesuatu yang tidak Allah ketahui ialah Allah tidak mengetahui akan adanya sekutu bagi Nya dalam kerajaan-Nya.”
Pastor itu bangun dan lalu memegang kepala Ali dan menciumi antara kedua matanya, seraya berkata: “Kamu adalah sumber agama dan hikmah. Aku telah membaca dalam Taurat namamu Ilyan dan dalam Injil adalah Ilya. Beritahu kepadaku bagaimana keadaan kaummu?”
Ali menjawab pertanyaan itu dengan sebuah penjelasan. Lalu pastor itu bangun dan menyerahkan seluruh hartanya kepada Ali dan kemudian pastor itu pulang kepada kaumnya.
ISLAM ITU RAHMATAN LIL’ALAMIN
Saat menjadi khalifah, Ali pernah berjalan-jalan di Kufah lalu melihat dengan yakin baju zirah perangnya namun saat itu berada di tangan seorang Nasrani. Ali tidak tahu bagaimana bisa baju zirah perangnya ada di tangan Nasrani tersebut. Sekalipun Ali telah meyakinkan Nasrani tersebut bahwa itu adalah baju zirahnya, namun Nasrani tetap bersikukuh itu miliknya.
Karena tidak menghasilkan mufakat, Ali pun membawa perkara ini ke pengadilan. Yang menjadi hakim (qadi) saat itu adalah Syarih bin al-Harits.
Syarih bertanya kepada Nasrani tersebut: “Apa pembelaanmu atas apa yang diklaim oleh Amirul Mukminin?”
Nasrani itu menegaskan: “Baju zirah ini milikku, Amirul Mukminin tidak berhak menuduhku!”
Syarih kemudian berpaling kepada Ali: “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau punya bukti bahwa itu adalah baju zirahmu?”
Ali menjawab: “Engkau benar Syarih, aku tidak punya bukti apapun.”
Syarih bertanya kembali: “Atau apakah engkau punya saksi-saksi?”
Ali menjawab: “Ada, Hasan.”
Syarih menegur: “Tidak bisa, Hasan tidak bisa menjadi saksi karena ia adalah anakmu.”
Ali berkata: “Wahai Syarih, bukankah engkau pernah mendengar sabda Rasulullah saw. bahwa Hasan dan Husain adalah dua orang pemimpin surga?”
Syarih mengingatkan Ali: “Sekalipun begitu, syari’at Islam tetap tidak membenarkan anak-anakmu menjadi saksi.”
Ali mengakui apa yang dikatakan Syarih tersebut, dan akhirnya Syarih memutuskan bahwa baju zirah tersebut adalah milik orang Nasrani.
Namun setelah Nasrani tersebut menerima kembali baju zirahnya, tak lama kemudian ia kembali menemui Ali dan Syarih seraya berkata: “Aku bersaksi bahwa hukum seperti ini adalah hukum para Nabi. Amirul Mukminin membawaku kepada hakim yang diangkat olehnya dan ternyata hakim tersebut menetapkan keputusan yang memberatkan Amirul Mukminin. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, baju zirah ini sebenarnya adalah milikmu wahai Amirul Mukminin. Saat itu aku mengikuti pasukanmu menuju perang Shiffin, dan aku mengambil beberapa barang dari kendaraanmu.”
Mendengar hal itu Syarih dan Ali tersenyum, Ali pun berkata: “Karena kau telah ber-Islam, maka ambillah baju zirah ini untukmu.” Laki-laki itupun sangat senang dengan hadiah yang diberikan Ali tersebut.
LEBIH MENYUKAI JADI PELAYAN DARIPADA JADI PEMIMPIN
Seandainya saja berkehendak, Ali sebenarnya sangat berpeluang besar menjadi khalifah ketiga pengganti Umar, karena saat itu Utsman lebih memilih Ali untuk menjadi khalifah ketiga. Namun karena sudah menjadi sifat mulia para sahabat Nabi, Ali ternyata lebih memilih Utsman daripada menerima jabatan khalifah.
Begitupun di saat Ali kembali dicalonkan sebagai khalifah keempat, Ali malah berkata:
“Tinggalkanlah aku, dan carilah orang lain yang lebih baik dari diriku… Daripada harus menjadi pemimpin, lebih baik aku menjadi pelayan untuk kalian.” [4] [5]
Apa yang menjadi dasar Ali dicalonkan kembali menjadi khalifah keempat? Pertama, karena para sahabat Nabi lainnya pun sama menolak jabatan khalifah seperti di antaranya: Zubair bin al-Awwam, Thalhah bin Ubaidilah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Umar. Akhirnya orang-orang pun kembali membujuk Ali dan kali ini lebih didukung oleh kaum Anshar dan Muhajirin serta para sahabat Nabi seperti Thalhah bin Ubaidilah, Zubair bin al-Awwam, Abdullah bin Umar, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Kedua, karena Ali lebih punya hubungan dekat dengan Nabi dibandingkan kandidat lainnya.
Lalu mengapa Ali kemudian menerima untuk di-bai’at menjadi khalifah? Ini tak lain dari sebuah pilihan yang sangat berat, satu sisi Ali enggan untuk menjadi pemimpin, tetapi di sisi lain kondisi kaum muslimin sangat genting terpecah belah dan harus sesegera mungkin dipersatukan kembali. Saat Ali didesak untuk di-bai’at, ia berkata:
“Sesungguhnya aku tidak menyukai perkara yang kalian bebankan kepadaku. Aku menerimanya demi kebaikan dan kepentingan kalian. Aku tidak ada artinya tanpa kalian…
Wahai manusia, sungguh ini merupakan perkara yang sangat berat. Tidak ada seorang pun yang berhak menetapinya kecuali yang kalian percayai…
Apakah kalian ridho?”
Mereka menjawab: “Ya kami ridho.”
Ali lalu berdoa: “Ya Allah, saksikanlah mereka.” [5]
Seandainya Ali tetap menolak menjadi khalifah, berarti ia membiarkan kaum muslimin semakin terpuruk dan ini bukanlah sifat seorang muslim. Tetapi di sisi lain sebagaimana ahlak mulia para sahabat Nabi, Ali tidak pernah meminta jabatan khalifah. Atas pertimbangan kemaslahatan umat yang lebih besar yang harus didahulukan di atas prinsip dan kepentingan pribadinya, akhirnya Ali menerima untuk di-bai’at menjadi khalifah keempat setelah Utsman.
ANTARA ALI DAN AISYAH
Setelah peperangan Jamal reda, Ali kemudian mendekati Aisyah seraya berkata: “Wahai ibunda orang-orang yang beriman (Ummul Mukminin), bagaimanakah keadaanmu?” Aisyah menjawab: “Keadaanku baik.”
Ali kemudian berkata: “Semoga Allah mengampuni kami dan engkau.” Aisyah menjawab: “Semoga Allah mengampuniku dan mengampunimu.”
Lalu Ali melepas Aisyah untuk pulang kembali ke Madinah dan mengirimkan pasukan untuk mengawalnya pulang dengan selamat. Sesaat sebelum berangkat pulang, Aisyah berpaling kepada kerumunan pasukan Ali dan berkata:
Wahai mukminin, kita telah telah saling mencela satu sama lain. Mulai saat ini, jangan ada lagi di antara kalian yang memusuhi saudaranya untuk urusan seperti ini. Demi Allah sesungguhnya apa yang terjadi antara diriku dan Ali adalah seperti yang terjadi antara ibu dan anak yang dilindunginya. Dan sesungguhnya Ali termasuk di antara kalangan yang terbaik.
Mendengar hal itu Ali membalasnya: “Demi Allah, engkau benar wahai Ummul Mukminin. Apa yang terjadi antara diriku dan Aisyah tidak lebih dari itu. Sesungguhnya ia adalah istri dari Nabi kalian di dunia dan akhirat.”
Ali turun mengantarkan langsung kepulangan rombongan Aisyah hingga berpisah di suatu tempat di dekat Madinah.
ANTARA ALI DAN MUAWIYAH
Muawiyah meriwayatkan sebuah hadits yang langsung didengarnya dari Rasulullah saw. yang telah bersabda: “Tidak relakah engkau memiliki kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja, tidak ada nabi setelahku.” [2]
Itu adalah hadits yang mengutarakan kedudukan Ali bin Abi Thalib di mata Rasulullah saw. yang disaksikan oleh Muawiyah. Jadi tentunya Muawiyah tahu benar kemuliaan Ali sebagai orang yang beriman, sahabat Nabi, sekaligus sebagai menantu Nabi. Lalu apa yang melatarbelakangi konflik antara Muawiyah dan Ali? Ini dapat dilihat dari beberapa riwayat.
Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah menuliskan:
Sekelompok orang menemui Muawiyah: “Apakah kau memerangi Ali karena kau merasa sebanding dengannya?”
Muawiyah menjawab: “Demi Allah, aku tahu Ali lebih baik dariku, lebih utama, dan lebih berhak atas kekhalifahan. Tetapi bukankah kalian mengetahui Utsman terbunuh secara zalim? Sedangkan aku adalah anak pamannya dan aku menuntut darahnya serta urusan yang ditinggalkannya. Karena itu sampaikanlah kepada Ali, serahkan para pembunuh Utsman kepadaku, maka aku akan menyerahkan urusan ini kepadanya.”
Ibnu Jarir at-Thabari dalam kitabnya Tarikh at-Thabari menuliskan:
Abu Darda dan Abu Umamah menemui Muawiyah: “Wahai Muawiyah, mengapa kamu memerangi laki-laki ini (Ali bin Abi Thalib)? Demi Allah, ia jauh lebih dulu masuk Islam dibandingkan engkau atau ayahmu, dan ia lebih dekat dengan Rasulullah saw. dibandingkan engkau, dan ia lebih berhak atas kekhalifahan dibandingkan engkau.”
Muawiyah menjawab: “Aku memeranginya untuk menuntut darah Utsman. Karena itu temuilah Ali, lalu mintalah kepadanya agar ia menyerahkan pembunuh Utsman kepadaku. Jika ia menyerahkannya, niscaya aku akan menjadi orang Syria pertama yang mem-bai’at dirinya.”
KATA-KATA BIJAK ALI BIN ABI THALIB
Sungguh aku merasa malu kepada Allah jika dosa-dosaku lebih besar dari ampunan Allah kepadaku.
Sungguh aku merasa malu kepada Allah jika kebodohanku lebih besar dari kesadaranku.
Sungguh aku merasa malu kepada Allah jika kekikiranku tidak menutupi kedermawananku.
– Ali bin Abi Thalib –
Berikut rangkaian kata-kata bijak dari Ali bin Abi Thalib:
* Orang yang layak diberi wewenang untuk menegakkan perintah Allah adalah orang yang tidak berleha-leha, tidak bermalas-malasan, dan tidak suka mengikuti hasrat perut.
* Ucapan dan kebijakan yang baik sering mendapatkan fitnah dari orang-orang yang tidak menyukai kebaikan.
* Sedikit tapi istiqomah lebih baik daripada banyak tapi disertai rasa bosan.
* Ketakwaan adalah induk ahlak.
* Jangan merasa tenang dengan apa yang belum terjadi dan jika sesuatu telah terjadi, jalanilah dengan ketegaran dan ketabahan.
* Sikap qana’ah dan menerima adalah milik yang paling berharga, sedangkan keindahan ahlak merupakan kenikmatan hidup yang sempurna.
* Setiap wadah akan menyempit ketika diisi, kecuali wadah ilmu yang akan semakin luas.
* Orang yang banyak memberi, akan banyak menerima.
* Orang yang berakal adalah orang yang meletakkan sesuatu pada tempatnya.
* Pahitnya dunia adalah manisnya akhirat, dan manisnya dunia adalah pahitnya akhirat.
* Waspadalah dirimu dari bermaksiat kepada Allah ketika engakau sendirian karena yang menyaksikanmu adalah Yang Maha Bijaksana.
* Seandainya seorang hamba melihat masa depan dan keadaannya di akhirat, tentu ia akan menahan syahwat dan tidak akan berpanjang angan.
* Sungguh aneh orang yang berputus asa sedangkan ia punya kesempatan untuk memohon ampunan.
* Kehormatan diri adalah hiasan kefakiran dan syukur adalah hiasan kekayaan.
* Seorang pendakwah yang tidak beramal bagaikan pemanah tanpa anak panah.
* Dosa yang paling besar adalah yang paling mengusik hati pelakunya.
* Aib paling besar adalah kembali melakukan keburukan yang pernah ia lakukan.
* Di antara amal terbaik seorang hamba adalah mengamalkan apa yang diketahuinya.
* Seburuk-buruknya bekal untuk akhirat adalah dosa.
* Barangsiapa mengenakan rasa malu sebagai pakaiannya, maka manusia tidak akan melihat aibnya.
* Manusia adalah musuh bagi apa-apa yang tidak diketahuinya.
* Balaslah orang yang menggunjingmu dengan berbuat baik kepadanya, dan balaslah kejahatan dengan kebaikan.
* Orang yang memiliki akan terpengaruh oleh apa yang dimilikinya.
* Ketakjuban akan menahan seseorang dari sikap berlebihan.
* Ketamakan dalah keburukan abadi.
* Ornag yang tidak bersabar akan dihancurkan oleh kesulitan.
* Meninggalkan dosa lebih ringan daripada mendapatkan ampunan.
* Binasalah orang yang tidak mengetahui kadar dirinya.
* Jika kau melihat, maka kau akan terlihat. Kau akan mendapat petunjuk jika kau mencarinya. Kau akan didengar jika kau mendengar.
* Seseorang tidak dianggap jujur hingga ia menjaga saudaranya dari tiga hal: dalam kesulitannya, dalam ketidakhadirannya, dalam kematiannya.
* Semangat adalah setengah pencapaian.
* Mintalah rejeki dengan bersedekah.
* Jika Sang Khalik Agung ada dalam pikiranmu, maka semua mahluk akan terlihat kecil di matamu.
* Meluputkan kesempatan adalah awal kehancuran.
* Apa yang bisa dibanggakan anak Adam? Pada awalnya ia hanyalah setetes mani, ujungnya hanya sebujur bangkai. Ia tidak dapat memenuhi rejeki dirinya dan tidak dapat menghalangi musibah atas dirinya.
* Ada dua pecandu yang tidak akan pernah merasa kenyang: orang yang mencari ilmu dan orang yang mencari harta.
* Menggunjing orang adalah pekerjaannya orang-orang yang lemah.
* Seburuk-buruknya saudara adalah yang menjadi beban saudaranya.
* Hati dapat bolak-balik. Ketika hati terlentang, bawalah ia untuk melakukan segala ibadah sunat. Saat hati berbalik, batasilah segala geraknya dengan melakukan ibadah wajib.
* Amal yang paling baik adalah amal yang paling dibenci oleh hawa nafsumu.
* Orang yang sombong dan sok tahu akan menggiring dirinya menuju kebinasaan.
* Keutamaan seseorang baru akan diketahui di tengah situasi yang bergejolak.
* Balasan pertama orang yang menyadari keadaan dirinya adalah pertolongan dari orang lain, sehingga ia dapat mengalahkan kebodohan.
* Hati yang berpaling seperti berpalingnya tubuh. Karena itu, carilah puncak-puncak hikmah untuk menggenapkan hatimu.
* Orang yang sabar pasti menang meski butuh waktu yang cukup lama.
* Kebinasaan akan menimpa orang yang mengutamakan pikiran dan pendapat dirinya.
* Bermusyawarah berarti berbagi pikiran dengan orang lain.
* Semakin sempurna akal seseorang, akan semakin sedikit ia bicara.
* Ahli dunia bagaikan penunggang yang berjalan di atas tunggangannya, sedangkan ia dalam keadaan tidur.



Created by: sabira alidrus 

Sunday, October 25, 2015

7 Perkara yang tidak disukai Imam zaman muhammad al mahdi

coming of mahdi
BANYAK orang memiliki persepsi yang keliru tentang kemunculan Imam Mahdi dan zaman yang akan dilewati olehnya. Mereka menduga bahwa ketika Imam Mahdi datang, maka dalam sekejab dunia akan berubah menjadi aman, adil, makmur dan penuh kesejahteraan. Mereka menyangka bahwa dengan kemunculan Imam Mahdi maka, dalam waktu singkat musuh akan ditumbangkan, kedzaliman akan dihilangkan dan ketidakadilan akan lenyap tanpa sisa.
Meski pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah, namun implikasi dari keyakinan di atas akan membuat banyak orang banyak mengidam-idamkan kedatangan Al-Mahdi tanpa berfikir sama sekali resiko dari harapannya. Sebab, kemunculan dan masa-masa awal pemerintahan Al-Mahdi justru akan dipenuhi dengan beragam fitnah dan huru-hara yang membuat banyak manusia lari menjauhi dan memusuhi Al-Mahdi.
Beratnya kebanyakan umat Islam untuk meninggalkan ideologi demokrasi, nasionalisme, kepartaian dan fanatisme golongan inilah yang membuat kebanyakan mereka berat untuk menerima Al-Mahdi. Sebab, kedatangan Al-Mahdi dan kelompoknya akan membersihkan semua berhala itu dan menggantinya dengan panji-panji tauhid. Sikap tegas tanpa kompromi dalam menerapkan syari’at Islam inilah yang mengundang seluruh kekuatan kufur dunia bersatu-padu untuk menghadang Imam Mahdi dan kelompoknya.
Dengan demikian, bisa dipastikan bahwa masa-masa pra, era dan pasca pembai’atan Al-Mahdi akan dipenuhi dengan perkara-perkara yang amat tidak disukai oleh manusia. Setidaknya, inilah berbagai kondisi yang akan mengelilingi masa-masa Al-Mahdi. Inilah perkara-perkara tersebut:

(1) Pembantaian Dan Pembunuhan Massal Terhadap Umat Islam

Pembantaian-Warga-Muslim-di-Myanmar
Pembantaian Warga Muslim di Myanmar
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,  “Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian, seperti orang-orang makan yang memperebutkan hidangannya.” Maka, ada seseorang bertanya : “Apakah karena sedikitnya kami pada hari itu?”Beliau menjawab : “Justru jumlah kalian banyak pada hari itu, tetapi ibarat buih di atas air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan kepada kalian penyakit wahn.” Seseorang bertanya: “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Cinta dunia dan takut mati,” [HR. Ahmad : 21891 dan Abu Daud : 4297]
Inilah zaman yang dikatakan oleh Rasulullah saw. sebagai puncak kedzaliman dan kecurangan.  Para penegak hukum Allah dituding sebagai teroris yang menjadi biang keladi kerusakan dunia, ideologi mereka dituduh sebagai ideologi Iblis dan nabi mereka difitnah dengan keji.
Kaum muslimin dikepung dari seluruh dunia, mereka yang istiqamah menjalankan syari’at bagai memegang bara; sangat panas dan hampir-hampir tak mampu untuk menggenggamnya. Dunia terasa sempit bagi setiap mukmin, tidak ada tempat berlari atau wilayah aman untuk tegaknya hukum hukum Allah.Al-Mahdi yang dijanjikan akan muncul di saat fitnah benar-benar tidak ada jalan keluar, saat kaum muslimin telah mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaga mereka untuk menegakkan seruan-Nya, namun kebengisan musuh dan makar mereka semakin menggila.
Di saat manusia dilanda perselisihan dan pertikaian, Al Mahdi akan datang untuk memerangi kedzaliman, menaklukkan seluruh dunia, hingga benar benar hanya Allah yang disembah. “Demi Allah, andaikan umur dunia tinggal satu hari, niscaya Allah akan panjangkan hingga Ia membangkitkan seorang lelaki dari keluargaku. Namanya sama dengan namaku, nama bapaknya juga sama dengan nama bapakku dan ia menebarkan kedamaian di bumi.” [HR. Tirmidzi]

(2) Kehancuran Ideologi Demokrasi Sekuler Liberal

trojan-democracy-horse
Sebagaimana penjelasan yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, bahwa kemunculan khilafah rasyidah akan terjadi setelah lewatnya periode mulkan jabbar (raja-raja diktator). Isyarat dalam nubuwat tersebut adalah bahwa ideologi yang muncul menggantikan ideologi diktator justru semakin mendekatkan kita dengan masa kemunculan Al-Mahdi.
Dalam hal ini, fenomena tumbangnya rezim diktator di beberapa negara (khususnya negara-negara berpenduduk muslim) merupakan indikasi kuat bahwa Allah benar-benar akan mengangkat periode itu dari umat Islam. Maka, keberadaan ideologi demokrasi yang menggeser rezim diktator (mulkan jabbar) hanyalah fase antara, sebuah jeda yang mengawali kemunculan fase terakhir, yaitu khilafah rasyidah menurut manhaj nubuwah dimana Al-Mahdi sebagai khalifahnya.
Sebenarnya keberadaan ideologi sekuler yang melahirkan demokrasi liberal telah memunculkan kediktatoran gaya baru yang berlindung di balik baju demokrasi. Para diktator itu juga banyak berlindung di balik HAM. Hal ini bisa kisa saksikan ketika sebuah masyarakat (negara) dengan suara mayoritas menghendaki tegaknya hukum Islam, maka para diktator (barat) itu dengan berbagai dalih berupaya untuk menggagalkan yang mereka inginkan.
Sebaliknya, jika dengan demokrasi dan produk turunannya (pemilu) mereka mendapatkan kemenangan (atau sesuai dengan apa yang mereka inginkan), maka dengan mati-matian pula mereka akan membelanya. Keadaan ini boleh jadi akan terus berlangsung hingga akhirnya masyarakat dunia mengetahui bahwa apa yang selama ini berlangsung bukanlah hakikat dari demokrasi yang banyak mereka pahami, melainkan demokrasi liberal yang diinginkan oleh barat.
Demokrasi ini adalah sebuah ideologi yang diproduksi untuk membela dan melindungi kepentingan Barat, bukan untuk kepentingan manusia seluruh dunia. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka dengan sendirinya kepercayaan masyarakat dunia hilang hingga akhirnya demokrasi akan ditinggalkan. Dan nampaknya inilah fenomena yang banyak kita saksikan terjadi pada negara-negara yang tengah mempraktikkan demokrasi liberal.
Jika periode zaman diktator telah berakhir dengan kemunculan demokrasi sekuler liberal, lalu ideologi ini juga dengan sendirinya runtuh dengan berbagai sebab yang telah kita bicarakan di atas, maka konsekwensi yang akan muncul adalah kembalinya khilafah rasyidah adalah sebuah kepastian, tidak mungkin tidak. Karena Imam Mahdi adalah seorang pemimpin muslim yang akan mempraktikkan hukum Islam secara total dalam kepemimpinannya, maka dengan sendirinya ideologi sekuler dan praktik demokrasi akan dibersihkan dari wilayah kekuasaannya, dan itu akan terjadi pada seluruh dunia. Dengan demikian Imam Mahdi pasti akan menghancurkan sistem ini, juga sistem-sistem kufur lainnya.

(3) Kehancuran Ekonomi Kapitalis Ribawiyah Dan Semua Institusinya

LehmanBrothers
Kondisi lain yang juga mengiringi keluarnya Al-Mahdi adalah dimulainya fase kehancuran ekonomi barat yang bercorak kapitalis, dimana sistem ekonomi ribawiah merupakan salah satu pilar penting bagi tegaknya sistem ekonomi ini.
Indikasi yang paling riil adalah problematika ekonomi, sosial dan politik dalam negeri Amerika yang sedang menuju status sekarat.
Hubungannya dengan kemunculan Al-Mahdi adalah bahwa fase kehancuran ekonomi kapitalis ribawiyah ini akan mengawali kehancuran dunia secara umum.
Dapat kita bayangkan jika akhirnya masyarakat seluruh dunia harus kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan pokok karena tidak beroperasinya kembali pabrik-pabrik yang memproduksi seluruh kebutuhan mereka (disebabkan runtuhnya pondasi ekonomi mereka), maka jalan menuju kemiskinan dan kehancuran total telah terbentang di depan mata.
Kondisi ini memiliki hubungan erat dengan masa-masa sulit yang akan dihadapi oleh manusia sebelum kemunculan Dajjal.

(4) Musnahnya Sistem Mata Uang Kertas dan Kembalinya Era Dinar Dirham

dollar
Semakin menambah runyam dan carut-marutnya kondisi manusia saat itu adalah dimulainya masa kehancuran mata uang kertas dan kembalinya manusia kepada mata uang yang sesungguhnya, yaitu dinar dan dirham (emas dan perak).
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa nilai dan harga sebuah mata uang tergantung dengan kredibilitas dan kekuasaan yang dimiliki oleh kepemimpinan sebuah negara.
Ketika sebuah rezim ditumbangkan, lalu rezim penggantinya menyatakan tidak diberlakukannya mata uang kertas rezim sebelumnya, maka dengan sendirinya mata uang kertas tersebut tidak berlaku.
Demikian pula yang kelak akan terjadi pada Amerika dan negara-negara Eropa pada umumnya.
Ketika itu perekonomian mereka hancur dihantam gelombang tsunami moneter dan krisis kepemimpinan yang membuat satu sama lainnya saling berperang untuk berebut kekuasaan.
Faktor lain yang juga mengambil peran cukup besar adalah kehancuran negeri tersebut karena faktor-faktor alam berupa bencana alam dalam skala yang sangat besar.

(5) Kembalinya Manusia Ke Zaman Unta

romawi vs islam
Hal lain yang juga menggambarkan betapa mengerikannya huru-hara dan bencana yang akan menimpa manusia adalah ketika mereka kelak akan kembali ke zaman unta; zaman batu yang jauh dari teknologi modern.
Analisis tentang kembalinya manusia ke zaman unta telah banyak dipaparkan oleh para penulis tentang akhir zaman dengan sudut pandang yang berbeda.
Dasar yang menjadi pijakan asumsi di atas adalah hadits Rasulullah saw tentang perang Malhamatul Kubra  antara pasukan Al-Mahdi dan pasukan Romawi (Amerika dan Eropa) yang sudah tidak lagi menggunakan teknologi modern.

(6) Kehancuran Ekonomi Dunia Di Masa Tiga Tahun Kekeringan

kekeringan
Dengan hancurnya pusat ekonomi dunia, maka secara otomatis dan sistematis akan berimplikasi pada roda ekonomi seluruh dunia. Salah satu logika sederhana dalam kasus ini adalah beredarnya mata uang kertas (mata uang palsu) yang kemudian tidak lagi berfungsi sebagai alat pembayaran akibat hancurnya negara yang mengeluarkan mata uang tersebut.
Dengan kehancuran dollar, maka implikasinya juga akan merembet kepada mata uang-mata uang negara lainnya. Dengan demikian, setiap orang (di negara manapun) yang saat itu masih memegang mata uang kertas tak ubahnya seperti anak-anak yang bermain dengan mata uang kertas mainan, yang tak laku untuk digunakan sebagai alat pembayaran atas barang atau jasa riil yang diinginkannya.
Dalam kondisi seperti itu, pemenuhan kebutuhan manusia hanya akan terjadi dengan cara jual beli yang paling adil; barter! Atau dengan menggunakan mata uang yang memiliki nilai intristik yang adil; emas dan perak.
Dalam kondisi yang benar-benar membuat setiap orang mengalami depresi berat dan stress yang memuncak, saat itulah masa-masa sulit yang terjadi karena suasana alam yang tidak bersahabat akan dimulai.
Peristiwa kemarau panjang dan kekeringan ekstrim selama tiga tahun yang berimbas pada langkanya bahan pangan akan terjadi pada detik-detik menjelang keluarnya Dajjal, yang berarti merupakan kondisi dimana Al-Mahdi baru muncul dan mendeklarasikan kedaulatannya.

(7) Pembunuhan Dan Peperangan Demi Mempertahankan Hidup

Panjangnya masa kehancuran dan kerusakan ekonomi yang merata di setiap negeri, terjadinya instabilitas keamanan, tidak berfungsinya alat-alat negara (para polisi dan aparat) karena mereka sudah tidak lagi mendapatkan gaji dari pemerintah pusat, berhentinya mesin-mesin produksi dan pabrik-pabrik makanan dan minuman, tidak berfungsinya kantor-kantor pemerintahan dan pelayanan masyarakat, rusaknya teknologi tranportasi dan komunikasi dan beragam pemandangan mengerikan lainnya, akan melahirkan satu kengerian baru; berpacunya manusia untuk mempertahankan hidup dengan cara-cara kalap; membunuh dan merampas serta cara-cara brutal lainnya. Orang-orang yang kuat akan memangsa yang lemah dan hukum rimba akan mewarnai setiap kehidupan.
Rasulullah saw bersabda : “Sungguh, menjelang terjadinya Kiamat ada masa-masa harj.” Para sahabat bertanya : “Apakah harj itu ?” Beliau bersabda : “Pembunuhan.” Mereka bertanya : “Apakah lebih banyak jumlahnya dari orang yang kita bunuh? Sesungguhnya kita dalam satu tahun membunuh lebih dari tujuh puluh ribu orang?” Beliau bersabda : “Bukan pembunuhan orang-orang musyrik oleh kalian itu, tetapi pembunuhan dilakukan oleh sebagian kalian terhadap sesamanya. ” Mereka bertanya : “Apakah pada masa itu kami masih berakal?“ Beliau bersabda .-“Akal kebanyakan manusia zaman itu dicabut, kemudian mereka dipimpin oleh orang-orang yang tak berakal, ke­banyakan manusia menyangka para pemimpin itu mempunyai pegangan, padahal sama sekali tidak demikian. [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]
Barangkali saat itulah masa yang dijanjikan Rasulullah saw akan terjadi. Para pemimpin mereka sudah tidak lagi memiliki akal. Perang antar kelompok, aksi saling bunuh dan rampas bukan lagi berdasar pada agama, bahkan akal sehat sekalipun. Apa yang mereka lakukan berangkat dari kondisi mengerikan yang menyebabkan mereka sudah tidak lagi mampu berfikir normal. Tindakan mereka benar-benar kalap, penuh nafsu, tidak rasional, dan akal manusia saat itu sudah benar-benar dicabut saking tidak sanggupnya melihat kondisi yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan.
Wallahu a’lam bish shawab.